Dalam artikel ini kita belajar:
- Manfaat menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) secara akurat
- Metode apa saja yang bisa digunakan lengkap dengan keuntungan dan kerugian masing-masing
- Cara aplikasi perhitungan di pabrik
Mengapa Penting Menghitung HPP dengan Benar?
Sampai saat ini belum ada survei yang meneliti berapa banyak pabrik yang sudah menghitung HPP-nya secara akurat. Namun bisa dipastikan masih ada banyak pabrik, terutama yang berukuran kecil dan menengah, yang belum menghitung HPP-nya secara akurat.
Hal ini disebabkan karena untuk bisa menghitung HPP memang tidak mudah, baik secara teori maupun secara praktek. Apalagi untuk pabrik yang proses produksinya rumit dan panjang dan membutuhkan banyak jenis bahan baku.
Apa resiko bila salah atau tidak hitung HPP dengan tepat?
Resiko yang harus ditanggung oleh perusahaan apabila harga pokok produksi tidak dihitung secara akurat adalah:
Salah Hitung HPP: ketinggian

Kalau hasil perhitungan HPP-nya terlalu tinggi, maka harga jual produk menjadi tidak kompetitif. Saat harga pesaing diturunkan, manajemen akan takut menurunkan harga karena dikira kalau turun, pabrik akan rugi. Akibatnya: perusahaan kehilangan peluang penjualan.
Salah Hitung HPP: kerendahan

Kalau hitung HPP kerendahan juga akan merugikan perusahaan. Walau produksi jalan terus, namun uang yang dihasilkan tidak akan cukup untuk menutupi biaya operasional perusahaan. Akibatnya: perusahaan bisa rugi dan akhirnya bangkrut.
Keuntungan Perhitungan HPP yang Akurat

Dengan adanya angka Harga Pokok Produksi yang akurat per hasil produksi, keuntungan yang bisa didapat oleh manajemen adalah:
- Harga kompetitif. Saat pesaing menurunkan harga, manajemen punya data yang akurat sebagai dasar pertimbangan apakah akan mengikuti bersaing dengan harga kompetitor atau tidak.
- Analisa profitabilitas per produk yang tajam. Bukan cuma sekedar tahu keuntungan perusahaan secara total, dengan perhitungan harga pokok produksi yang akurat per produk, manajemen juga bisa tahu kontribusi profit datang dari produk mana saja.
Metode Perhitungan Harga Pokok Produksi
Berikut ini adalah metode yang bisa digunakan untuk perhitungan HPP.
Hitung Bahan Baku Saja
Cara paling sederhana untuk menghitung harga pokok produksi adalah menghitung cost dari semua bahan baku yang digunakan untuk menghasilkan 1 Barang jadi.
Contoh perhitungan:
Untuk memproduksi 1 baju dibutuhkan 1 m kain senilai 50 ribu, kancing dan asesoris lainnya total senilai 10 rb. Berarti harga pokok produksi baju yang dihasilkan adalah: 50 ribu + 10 ribu.

Ditambah Biaya Tenaga kerja langsung

Barang jadi tentunya tidak akan jadi dengan sendirinya. Butuh orang atau operator yang mengerjakannya. Oleh sebab itu, harga pokok produksi, selain menghitung biaya bahan baku, juga perlu menghitung biaya tenaga kerja langsung.
Yang dimaksud biaya tenaga kerja langsung adalah biaya yang dikeluarkan untuk operator yang mengerjakan tugas tersebut. Untuk karyawan di luar lantai produksi tidak perlu dibebankan.
Ditambah Biaya Overhead Pabrik
Komponen ke-3 yang harus ada di harga pokok produksi adalah Biaya overhead pabrik.
Apa saja yang termasuk di dalam Biaya overhead pabrik:
- Depresiasi mesin
- Biaya bahan baku pendukung
- Utilitas pabrik (air, listrik, gas, dll)
- Gaji mandor, supervisor, manajer yang berhubungan dengan produksi.
- Biaya pemeliharan mesin & bangunan pabrik
- Biaya asuransi mesin & properti
Dan biaya tidak langsung lainnya yang dibutuhkan agar proses produksi bisa berjalan dengan baik.

Cara Pengalokasian Biaya
Setelah melihat rumus-rumus di atas, mulai terlihat kerumitan cara perhitungan harga pokok produksi. Untuk bahan baku, tidak ada isu. Semua cost inventory sejumlah yang digunakan tinggal dicemplungkan. Untuk Biaya Tenaga Kerja Langsung, kalau gajinya dihitung per barang yang dihasilkan, juga mudah.
Tinggal dicemplungkan juga berapa gaji yang dibayarkan. Yang sulit adalah biaya gaji bulanan dan overhead pabrik.
Untuk biaya-biaya yang sifatnya bulanan, ada beberapa cara yang sering digunakan untuk alokasi:
Standard Costing
Setiap hasil produksi akan dibebankan sejumlah biaya yang standard. Angka standard ini umumnya diambil dari hasil produksi rata-rata periode-periode sebelumnya.
Contoh standard cost yang dibebankan per baju:
- Biaya gaji: Rp. 200
- Biaya listrik: Rp. 75
- dst-nya.
Activity Based Costing (ABC)
Berbeda dengan Standard Costing, ABC akan membebani cost ke sebuah proses produksi berdasarkan aktivitas yang dilalui oleh Barang Jadi (BJ) tersebut. Setiap aktivitas akan ada akun-akun standard yang akan dibebankan.
Misal:
Setiap kali sebuah BJ melewati proses pencampuran, akan dibebankan biaya gaji sebesar Rp. 200. Jadi kalau ada proses rework sehingga barang itu perlu melewati proses pencampuran 2 kali, maka dia akan dibebankan biaya gaji 2x Rp. 200.
Actual Costing
Masalah dengan metode standard costing maupun ABC adalah nilai yang dibebankan tidak sama dengan nilai aktual.
Sebagai contoh: Gaji tetap karyawan produksi total 100 juta. Rata-rata hasil produksi sebelumnya 1 juta unit. Maka 1 unit produksi akan dibebankan biaya gaji Rp. 100.
Misal di bulan berjalan jumlah produksinya sedikit menurun menjadi 900 ribu unit. Beban gaji yang akan dialokasikan ke harga pokok produksi adalah: 900 ribu x Rp. 100 = Rp. 90 juta.
Hasilnya adalah: biaya gaji akan tersisa dan muncul di laporan laba rugi sebesar Rp. 10 juta.
Bagaimana caranya agar semua biaya gaji terserap 100%? Caranya adalah dengan menghitung actual cost yang akan dibebankan.
Dalam contoh di atas, saat jumlah produksi turun ke 900 ribu unit, maka cost gaji yang dibebankan adalah Rp. 100 juta / 90 ribu = Rp. 111,11.
Disamping keunggulan metode actual cost ini, dia juga ada kelemahan, yaitu:
- Harga pokok produksi baru bisa dihitung di akhir periode setelah semua aktual hasil produksi diketahui.
- Pada saat jumlah produksi turun, Harga Pokok Produksi akan naik mengakibatkan laba kotor terlihat turun, bahkan bisa minus.
Metode Mana yang Terbaik?
Eliyahu goldratt di Throughput Accounting menyarankan perhitungan harga pokok produksi hanya menghitung direct material saja. Alasannya sederhana. Metode perhitungan harga pokok produksi yang dibahas di atas ditemukan pada saat jaman revolusi industri, di mana: tenaga kerja dibayar berdasarkan jumlah produksi dan mesin-mesin produksi masih sederhana dan murah. Jadi komponen biaya bahan baku masih mendominasi harga pokok produksi.
Jaman sekarang berbeda. Gaji operator sudah jarang sekali dihitung berdasarkan hasil produksi. Kebanyakan dihitung per hari/minggu atau bahkan per bulan. Begitu juga dengan mesin-mesin produksi. Mesin-mesin produksi sekarang kapasitasnya besar-besar, begitu juga harganya. Akibatnya, nilai depresiasinya juga besar. Membebani nilai depresiasi mesin yang mahal ke hasil produksi bisa menjadi bumerang.
Sebagai contoh: Sebuah pabrik teh besar di Kota Slawi baru saja membeli mesin pengisi tea bag. Bagian akunting langsung menghitung depresiasi dengan metode double declining dan membebani nilai tersebut ke setiap teabag yang dihasilkan. Hasilnya adalah: Harga pokok produksinya naik yang otomatis menaikan harga jualnya. Hal ini menjadi ironis karena tujuan awal membeli mesin tersebut adalah demi efisiensi dan menurunkan harga pokok produksi.
Cara Hitung
Setelah kita membahas metode perhitungannya, sekarang mari kita bahas bagaimana mengaplikasikan berbagai metode perhitungan tersebut ke perhitungan aktual barang jadi hasil produksi.
Hitung Manual
Cara yang paling sering dilakukan oleh manajer akunting pabrik adalah dihitung secara manual. Cara manual yang paling sering digunakan adalah menggunakan spreadsheet (Excel/ google sheet).
Rumus yang bisa digunakan adalah:
HPP = Saldo awal WIP + Total biaya produksi - Saldo akhir WIP
di mana:
- Saldo awal WIP adalah total nilai WIP d awal periode
- Total Biaya Produksi adalah
- Total semua bahan baku yang digunakan dalam 1 periode
- Total Biaya tenaga kerja langsung
- Total Biaya overhead pabrik yang akan dialokasikan
Cara ini mempunyai kelemahan, yaitu:
- Hanya mengetahui Harga Pokok Produksi total secara periodik.
- Tidak bisa mengetahui harga pokok produksi per produk.
- Tidak bisa tahu harga pokok penjualan dan laba kotor per produk.
- Baru bisa tahu laporan harga pokok produksi di akhir periode
Pakai Software ERP/Akuntansi
Cara kedua lebih canggih dari cara pertama. Tidak pakai excel lagi, tapi sudah menggunakan software akunting atau ERP. Modul yang digunakan biasanya bernama: Job costing.
Caranya adalah Setiap ada Work Order / Surat Perintah Kerja (SPK), admin perlu mencatat:
- Jumlah material yang digunakan
- Biaya tenaga kerja yang akan dialokasikan
- Biaya Overhead Pabrik yang akan dialokasikan.
- Setelah mendapat laporan hasil produksi dari floor, admin akan membalik / roll over job costing tersebut menjadi barang jadi.
- Harga pokok produksi akan otomatis dihitung berdasarkan 3 angka di atas.
Keuntungan dengan cara ini adalah:
- Kalau diisi dengan benar, harga pokok produksi akan terhitung secara akurat.
- Otomatis laba rugi per item bisa dianalisa dengan akurat
- Cocok untuk proses produksinya pendek.
Kelemahannya adalah:
- Hanya bisa digunakan untuk standard costing atau ABC.
- Untuk hasil produksi yang bertahap, harus tunggu sampai 1 SPK selesai baru bisa diinput ke sistem.
- Data tidak realtime karena data baru masuk setelah proses produksi sudah selesai.
- Mengandalkan admin untuk input data. Kalau telat atau salah, data menjadi tidak bisa diandalkan.
- Untuk barang jadi dengan BOM bertingkat, proses perhitungan harga pokok produksinya bisa memperlambat sistem.
Pakai Software MES

Menggunakan Manufacturing Execution System atau software manufaktur di lantai produksi dan diintegrasikan dengan ERP/software akunting adalan solusi yang ideal.
Dengan menggunakan MES, software akan menyuntikan data secara realtime ke ERP untuk melakukan apapun pencatatan cost akunting yang perlu dilakukan.
Keuntungan:
- Harga pokok produksi bisa dhitung secara realtime.
- Tidak perlu mengandalkan admin produksi yang biasanya hanya kerja 1 shift dibandingkan dengan operator pabrik yang kerja 3 shift.
Kelemahannya:
- Bagian cost akunting akan merasa tidak mempunyai kendali atas harga pokok produksi karena data akan otomatis masuk ke ERP.
- Bila software MES-nya ngaco, maka data ERP akan ikut ngaco.
Mana yang terbaik?
Dalam dunia cost accounting, tidak ada 1 metode yang paling baik. Yang ada adalah metode yang paling cocok. Cocok dengan keinginan manajemen, cocok dengan kondisi pabrik, cocok dengan jenis produk yang dihasilkan, cocok juga dengan software yang digunakan.
Yang dibutuhkan adalah pihak yang memahami semua kedua dunia — dunia pabrik dan dunia akunting — dengan baik, sehingga bisa memberikan solusi yang paling cocok.
Apabila Anda sedang mencari software ERP / cost accounting yang bisa menghitung harga pokok produksi dengan akurat, real time, tidak membebani operator produksi, namun hasil perhitungannya bisa diterima oleh bagian akunting, silakan hubungi kami.
Dengan Biz-A MES, software manufaktur teradaptif yang dirancang khusus untuk pabrik-pabrik di Indonesia, kami yakin bisa memberikan solusi yang pas untuk pabrik Anda.

Artikel lain
- Studi kasus di BMW.
- Sistem Kanban dan penerapannya di Pabrik Plastik.
- Cara integrasi software produksi dengan IoT.
- Contoh Penerapan Biz-A MES di:
